Sejarah Pulau Pahawang: Dari Pok Hawang hingga Desa Wisata Bahari

Pulau Pahawang sekarang lebih sering dikenal lewat foto laut biru, terumbu karang, ikan warna-warni, dan aktivitas snorkeling.

Namun, jauh sebelum namanya ramai di media sosial, pulau di Kabupaten Pesawaran ini sudah memiliki perjalanan panjang yang berkaitan dengan perpindahan penduduk, pembukaan kebun, kehidupan pesisir, hingga pelestarian mangrove.

Sejarah Pulau Pahawang juga menarik karena tidak semuanya berasal dari catatan tertulis. Sebagian kisah awalnya hidup melalui cerita masyarakat setempat yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Salah satu cerita paling populer menghubungkan nama Pahawang dengan seorang pendatang bernama Hawang dan putrinya yang dikenal sebagai Pok Hawang.

Dari sebuah kawasan yang dihuni kelompok-kelompok pendatang, Pahawang kemudian berkembang menjadi desa definitif, masuk dalam wilayah Kabupaten Pesawaran, membangun gerakan konservasi pesisir, lalu tumbuh menjadi salah satu destinasi wisata bahari terkenal di Lampung.

Jadi, cerita Pahawang sebenarnya bukan hanya soal pantai cantik, tetapi juga tentang perjalanan sebuah masyrakat pulau dalam beradaptasi dengan zaman.

Mengenal Pulau Pahawang dan Letaknya

Pulau Pahawang berada di kawasan Teluk Lampung dan saat ini secara administratif termasuk Desa Pulau Pahawang, Kecamatan Marga Punduh, Kabupaten Pesawaran, Provinsi Lampung.

Kawasannya dikenal terdiri atas Pahawang Besar, Pahawang Kecil, serta sejumlah pulau kecil di sekitarnya.

Penelitian Universitas Lampung yang dipublikasikan pada 2022 mencatat luas kawasan sekitar 1.084 hektare. Permukimannya terbagi ke dalam enam dusun, yaitu Suak Buah, Penggetahan, Jeralangan, Kalangan, Pahawang, dan Cukuh Nyai.

Bentang alamnya merupakan kombinasi kawasan pantai, perbukitan, kebun, hutan, dan ekosistem mangrove.

Kondisi geografis inilah yang sejak lama ikut menentukan kehidupan penduduk, mulai dari bertani dan melaut sampai kemudian mengembangkan kegiatan wisata.

Asal-Usul Pulau Pahawang Bermula dari Cerita Nokoda dan Hawang

Bagian awal sejarah Pahawang perlu dipahami sebagai tradisi lisan masyarakat, bukan catatan sejarah yang seluruh detailnya telah diverifikasi melalui arsip.

Menurut cerita lokal yang dicatat dalam laman Desa Wisata Pulau Pahawang milik Kementerian Pariwisata, sekitar tahun 1700-an datang seorang tokoh yang disebut Nokoda.

Setelah itu datang pula Hawang, yang dalam cerita setempat disebut sebagai keturunan Tionghoa.

Hawang kemudian menetap di kawasan tersebut dan memiliki seorang anak perempuan. Putrinya dikenal atau sering dipanggil Pok Hawang.

Dari Pok Hawang Menjadi Pahawang

Menurut tradisi lokal, kebiasaan masyarakat menyebut “Pok Hawang” lama-kelamaan berhubungan dengan penyebutan wilayah tempat keluarga Hawang tinggal. Sekitar 1850-an, nama Pahawang mulai digunakan untuk menyebut pulau tersebut.

Kisah ini menjadi salah satu versi asal-usul nama Pahawang yang paling banyak diceritakan hingga sekarang.

Walaupun sulit membuktikan setiap detailnya melalui dokumen abad ke-18 dan ke-19, cerita Pok Hawang tetap penting karena merupakan bagian dari ingatan kolektif masyarakat setempat.

Permukiman Pahawang Berkembang pada Awal Abad ke-20

Perkembagan permukiman di Pahawang semakin jelas memasuki abad ke-20. Salah satu nama yang dicatat dalam sejarah lokal adalah H. Muhammad bin H. Ibrahim Hulubalang dari Kalianda yang kemudian tinggal di kawasan Kalangan.

Sekitar 1920-an, Ki Mandara yang berasal dari Sulawesi Selatan juga datang dan menetap. Kehadirannya ikut memperkuat komunitas yang berkembang di pulau tersebut.

Pada sekitar 1930, datang Datuk Jahari. Ia menetap di Penggetahan dan kemudian menikah dengan anak Ki Mandara. Pada periode yang kurang lebih sama, H. Dulmalik dari Putih Doh juga menetap di kawasan Suak Buah.

Pendatang berikutnya berasal dari berbagai wilayah, termasuk Banten dan Jawa Barat. Salah satu alasan utama kedatangan mereka adalah membuka lahan dan berkebun.

Karena itulah sejarah masyarakat Pahawang sejak awal memperlihatkan percampuran latar belakang penduduk pesisir Lampung, Sunda, Bugis, dan kelompok lainnya.

Dari Permukiman Menjadi Desa Definitif pada 1980

Seiring bertambahnya penduduk, kawasan yang semula merupakan kumpulan permukiman berkembang menjadi wilayah dengan struktur pemerintahan yang lebih jelas.

Menurut basis data Desa Wisata Indonesia dari Kementerian Pariwisata, Pulau Pahawang secara definitif ditetapkan menjadi desa pada 1980.

Status tersebut menjadi tonggak penting dalam sejarah Pulau Pahawang. Pemerintahan desa membuat pengelolaan wilayah, pembagian dusun, pelayanan masyarakat, hingga pengaturan sumber daya lokal dapat dilakukan dengan struktur yang lebih formal.

Aktivitas ekonomi penduduk ketika itu masih sangat bergantung pada kondisi alam.

Bertani, berkebun, menangkap ikan, dan memanfaatkan sumber daya pesisir menjadi bagian utama kehidupan sehari-hari, jauh sebelum sebagian penduduk bekerja sebagai pemandu wisata, pengelola homestay, penyedia perahu, atau usaha kuliner.

Pahawang Masuk Kabupaten Pesawaran

Perjalanan administratif Pahawang kembali mengalami perubahan setelah terbentuknya Kabupaten Pesawaran.

Kabupaten Pesawaran resmi dibentuk melalui Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2007 sebagai pemekaran dari Kabupaten Lampung Selatan.

Dengan perubahan tersebut, wilayah Pahawang yang sebelumnya berada dalam Kabupaten Lampung Selatan kemudian menjadi bagian Kabupaten Pesawaran.

Kini Desa Pulau Pahawang berada di Kecamatan Marga Punduh. Posisinya sebagai desa kepulauan membuat hubungan dengan laut tetap menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat sekaligus akses utama bagi wisatwan yang datang.

Perubahan administratif tersebut mungkin terdengar sederhana, tetapi penting dalam memahami sejarah Pahawang modern karena ikut memengaruhi arah pembangunan infrastruktur, pariwisata, dan pengelolaan kawasan pesisir.

Konservasi Mangrove Menjadi Bagian Penting Sejarah Pahawang

Salah satu bab penting dalam perkembangan Pahawang terjadi ketika masyarakat mulai semakin serius menjaga ekosistem mangrove.

LSM lingkungan Mitra Bentala mulai mendampingi masyarakat Pahawang sejak sekitar 1997. Kerja bersama tersebut mendorong kegiatan rehabilitasi mangrove dan meningkatkan kesadaran mengenai pentingnya hutan bakau bagi perlindungan pantai serta kehidupan biota laut.

Dalam perkembangannya, masyarakat bersama berbagai pihak berhasil melakukan penanaman kembali mangrove secara gotong royong. Desa juga memiliki aturan mengenai perlindungan mangrove yang memuat larangan dan sanksi terhadap penebangan.

Penelitian yang diterbitkan pada 2023 mencatat terdapat sekitar 30 hektare area inti mangrove di Pulau Pahawang dengan beberapa jenis seperti Rhizophora apiculata, Rhizophora mucronata, Rhizophora stylosa, Sonneratia alba, dan Heritiera littoralis.

Gerakan konservsi ini menjadi penting karena kemudian ikut membentuk citra Pahawang bukan hanya sebagai tempat wisata pantai, tetapi juga kawasan wisata berbasis lingkungan.

Dari Kampung Pesisir Menjadi Desa Wisata Bahari

Transformasi terbesar Pahawang terlihat ketika potensi bawah lautnya mulai dikenal lebih luas. Terumbu karang, pantai berpasir, mangrove, dan perairan yang cocok untuk snorkeling membuat kunjungan wisata semakin berkembang.

Penelitian mengenai potensi wisata Pahawang mencatat aktivitas yang tersedia tidak hanya snorkeling dan wisata pantai, tetapi juga wisata mangrove, bersepeda mengelilingi pulau, pengamatan lutung, kegiatan pendakian, serta wisata berbasis masyarakat.

Perkembangan tersebut kemudian membawa perubahan ekonomi. Perahu yang sebelumnya terutama menunjang mobilitas dan aktivitas nelayan dapat digunakan untuk perjalanan wisata.

Rumah penduduk berkembang menjadi homestay, sementara masyarakat mulai membuka jasa pemandu, penyewaan alat snorkeling, makanan, dan berbagai usaha pendukung.

Nama Pahawang mendapat perhatian nasional ketika Desa Wisata Pulau Pahawang masuk dalam 50 besar Anugerah Desa Wisata Indonesia 2022 dan menjadi salah satu desa yang mendapat program pendampingan.

Namun, meningkatnya pariwisata juga membawa tantangan.

Pertumbuhan fasilitas harus tetap diimbangi pengelolaan sampah, perlindungan terumbu karang, mangrove, serta keterlibatan masyarakat lokal agar keuntungan ekonomi tidak mengorbankan lingkungan yang justru menjadi daya tarik utama Pahawang.

Sejarah Pahawang Bukan Hanya Tentang Masa Lalu

Menariknya, sejarah Pulau Pahawang masih terus berlangsung.

Dari cerita Pok Hawang, kedatangan para pendatang, pembukaan perkebuan, pembentukan desa, hingga munculnya gerakan konservasi, setiap periode meninggalkan pengaruh pada wajah Pahawang sekarang.

Pariwisata hanyalah bab terbaru dari perjalanan tersebut. Identitas Pahawang sebenarnya terbentuk dari hubungan antara manusia, laut, kebun, mangrove, serta berbagai kelompok masyarakat yang datang dan kemudian membangun kehidupan bersama.

Karena itu, mengenal sejarahnya memberi sudut pandang berbeda ketika berkunjung.

Pahawang tidak lagi terlihat hanya sebagai lokasi snorkeling, melainkan sebagai desa kepulauan yang mengalami perubahan sosial, ekonomi, administratif, dan lingkungan selama beberapa generasi.

Sejarah Pulau Pahawang di Kabupaten Pesawaran berawal dari tradisi lisan mengenai Nokoda, Hawang, dan Pok Hawang pada abad ke-18 hingga ke-19.

Memasuki abad ke-20, kedatangan berbagai kelompok penduduk mendorong perkembangan permukiman dan perkebunan hingga Pahawang akhirnya ditetapkan sebagai desa definitif pada 1980.

Perjalanan kemudian berlanjut dengan masuknya Pahawang ke Kabupaten Pesawaran, tumbuhnya gerakan perlindungan mangrove sejak akhir 1990-an, serta transformasi menjadi destinasi wisata bahari yang dikenal secara nasional.

Jadi, di balik laut jernih dan terumbu karangnya, Pahawang menyimpan perjalanan masyarakat pesisir yang panjang.

Jika suatu hari berkunjung ke Pahawang, jangan hanya melihat dunia bawah lautnya. Mengenal cerita desa, berbincang dengan warga lokal, serta ikut menjaga lingkungan adalah cara terbaik menikmati Pahawang dengan lebih bermakna.

FAQ

1. Dari mana asal nama Pulau Pahawang?

Menurut cerita masyarakat setempat, nama Pahawang berkaitan dengan seorang pendatang bernama Hawang dan putrinya yang sering dipanggil Pok Hawang. Penyebutan tersebut dipercaya berkembang menjadi nama Pahawang sekitar 1850-an.

2. Kapan Pulau Pahawang mulai dihuni?

Tradisi lokal menyebut kedatangan Nokoda dan Hawang sejak sekitar 1700-an. Namun, perkembangan permukiman yang lebih jelas tercatat melalui kedatangan sejumlah tokoh pada awal abad ke-20.

3. Kapan Pulau Pahawang resmi menjadi desa?

Pulau Pahawang secara definitif ditetapkan sebagai desa pada 1980.

4. Pulau Pahawang berada di kabupaten mana?

Saat ini Desa Pulau Pahawang berada di Kecamatan Marga Punduh, Kabupaten Pesawaran, Provinsi Lampung.

5. Mengapa Pulau Pahawang terkenal?

Pahawang terkenal karena wisata baharinya, khususnya snorkeling, terumbu karang, pantai, serta ekosistem mangrove. Desa Wisata Pulau Pahawang juga masuk 50 besar Anugerah Desa Wisata Indonesia 2022.